MAPABA PMII Pertamaku: Dari Materi ke Makna, Dari Lelah ke Kesadaran
Beberapa waktu lalu pada tanggal 06 Oktober 2024 aku ikut MAPABA PMII — singkatan dari Masa Penerimaan Anggota Baru Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Awalnya kupikir acaranya bakal santai, ternyata cukup padat dan penuh materi. Tapi seru kok, apalagi karena ini pengalaman pertama ikut organisasi.
Selama MAPABA, kami menerima berbagai materi dari para senior dan pengurus PMII. Jujur saja, perasaanku campur aduk. Pagi masih penuh semangat, siang mulai terasa lelah, dan sore hari rasa jenuh mulai datang 😅. Meski beberapa sesi membuat kepala terasa penuh dan mata hampir terpejam 😂, semua materi ternyata saling berkaitan dan penting untuk dipahami sebagai calon anggota baru PMII.
Berikut materi dan pemateri yang menyampaikan:
---
📜 Sejarah Singkat PMII
PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) lahir pada 17 April 1960. Organisasi ini lahir dari kegelisahan mahasiswa Islam yang ingin punya ruang gerak sendiri:
👉 tetap berlandaskan Islam,
👉 berpikir kritis sebagai mahasiswa,
👉 dan berpihak pada nilai kemanusiaan.
Sejak awal, PMII hadir sebagai wadah mahasiswa Islam yang bernafaskan Ahlussunnah wal Jama’ah, tapi tetap terbuka, moderat, dan kontekstual dengan zaman.
---
🔄 Fase Perkembangan PMII
Pemateri menjelaskan bahwa PMII mengalami beberapa fase penting dalam perjalanannya:
1. Fase Dependent (Ketergantungan)
Di fase awal, PMII masih sangat bergantung pada organisasi induknya, baik secara struktur maupun arah gerak.
2. Fase Independent (Kemandirian)
Pada fase ini, PMII mulai berdiri sendiri sebagai organisasi mahasiswa yang mandiri dalam menentukan sikap dan gerakan.
3. Fase Interdependent (Saling Ketergantungan)
Fase ini menggambarkan PMII yang sudah matang: mandiri, tapi tetap mampu bekerja sama dan berdialog dengan berbagai pihak.
Dari sini aku sadar, ternyata PMII juga “tumbuh” seperti manusia—dari bergantung, belajar mandiri, lalu mampu hidup berdampingan.
---
🎯 Tujuan PMII
Tujuan utama PMII adalah membentuk pribadi muslim Indonesia yang:
* Bertakwa kepada Allah SWT
* Berilmu dan berpikir kritis
* Berakhlak mulia
* Bertanggung jawab terhadap masyarakat dan bangsa
Singkatnya, PMII ingin melahirkan mahasiswa yang tidak hanya pintar di kelas, tapi juga peka terhadap sekitar.
---
🛡️ Makna Lambang PMII
Bagian ini yang menurutku paling menarik, karena ternyata setiap warna dan bentuk di lambang PMII punya makna.
🔵 Perisai
Melambangkan ketahanan diri, kesiapan, dan perlindungan nilai-nilai Islam serta kemanusiaan.
🔵 Warna Biru Tua
Melambangkan kedalaman ilmu pengetahuan dan ketenangan berpikir.
🔹 Biru Muda
Melambangkan idealisme dan dinamika kaum muda yang terus bergerak dan berkembang.
🟡 Warna Kuning
Melambangkan identitas mahasiswa—cerdas, optimis, dan berani menyuarakan kebenaran.
Secara keseluruhan, lambang PMII bukan sekadar simbol, tapi cermin karakter kader yang diharapkan: berilmu, beriman, dan berperan.
---
🌱 Materi Kedua: Nilai Dasar Pergerakan (NDP)
Setelah materi pengenalan PMII, kami lanjut ke materi kedua yang menurutku cukup berat tapi paling “kena ke diri sendiri”, yaitu Nilai Dasar Pergerakan (NDP).
Kalau materi pertama bikin kita tahu PMII itu apa, maka materi NDP ini ngajak kita mikir: “Kita ini mau jadi manusia seperti apa?”
Pemateri menjelaskan bahwa NDP adalah kerangka berpikir kader PMII, supaya setiap langkah, sikap, dan keputusan yang diambil tidak asal-asalan, tapi punya dasar nilai.
---
🕌 1. Tauhid: Kerangka Berpikir Utama
Semua nilai dalam PMII berawal dari tauhid — keyakinan bahwa Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan dan pusat dari segala kehidupan.
Tauhid bukan cuma soal mengucap syahadat, tapi tentang:
menyadari bahwa hidup ini ada yang mengatur,
merasa diawasi,
dan bertanggung jawab atas setiap perbuatan.
Pemateri bilang, kalau tauhidnya kuat, maka:
> berpikirnya tidak sombong,
bergeraknya tidak semena-mena,
dan tujuannya tidak hanya dunia.
Di sini aku mulai mikir, kadang kita merasa bebas melakukan apa saja, padahal lupa bahwa ada nilai ilahiah yang seharusnya membimbing langkah kita.
---
🤲 2. Hablumminallah: Hubungan dengan Allah
Setelah tauhid, hubungan paling utama adalah hablumminallah — hubungan manusia dengan Allah.
Ini mencakup:
ibadah,
doa,
kejujuran hati,
dan kesadaran spiritual.
Pemateri menekankan bahwa kader PMII itu harus seimbang: aktif bergerak, tapi tetap menjaga ibadah. Karena sehebat apa pun pergerakan, kalau lupa pada Allah, arah perjuangannya bisa melenceng.
---
🤝 3. Hablumminannas: Hubungan dengan Manusia
Nilai berikutnya adalah hablumminannas, yaitu hubungan kita dengan sesama manusia.
Dalam konteks PMII, ini sangat penting karena:
kita hidup dalam perbedaan,
bekerja dalam tim,
dan sering bertemu dengan berbagai karakter.
Pemateri menjelaskan bahwa kader PMII harus:
mampu berteman,
menghargai perbedaan pendapat,
tidak mudah menyalahkan,
dan tidak merasa paling benar.
Aku merasa bagian ini paling relevan, Kadang beda pendapat sedikit aja bisa jadi konflik. Padahal PMII mengajarkan bahwa perbedaan itu bukan ancaman, tapi ruang belajar.
---
🌿 4. Hablum minal ‘Alam: Hubungan manusia dengan Alam
Jujur, ini bagian yang awalnya jarang aku pikirkan. Tapi pemateri menjelaskan bahwa:
merusak alam berarti merusak kehidupan,
dan menjaga alam adalah bagian dari ibadah.
Sebagai mahasiswa, hal sederhana seperti:
tidak membuang sampah sembarangan,
hemat air dan listrik,
dan peduli lingkungan
itu sudah termasuk bentuk tanggung jawab moral.
Di sini aku baru sadar, iman itu bukan cuma soal sholat dan doa, tapi juga soal bagaimana kita memperlakukan bumi tempat kita hidup.
---
⏰ Rehat Tengah Hari: Saat Badan Istirahat, Pikiran Tetap Jalan
Sekitar jam 12 siang, rangkaian materi kami jeda sejenak. Waktunya shalat, makan, dan mengistirahatkan badan yang sejak pagi sudah duduk mendengarkan pemateri. Ada yang langsung ke tempat wudhu, ada juga yang duduk terlebih dahulu sejenak sambil menghela napas—capek, tapi tetap bertahan.
Momen ini terasa sederhana, tapi penting. Di sela-sela lelah, kami diingatkan bahwa di tengah kesibukan apa pun, shalat tetap jadi penyangga utama. Setelah itu, kami makan bersama, saling berbagi cerita ringan, tertawa kecil, dan mengumpulkan tenaga sebelum kembali masuk ke ruangan.
Tak lama kemudian, materi dilanjutkan lagi hingga sore, saat matahari mulai condong. Meski ada rasa jenuh dan kantuk, suasana tetap dijaga. Karena kami tahu, MAPABA bukan soal seberapa kuat fisik bertahan, tapi seberapa serius niat untuk belajar dan berproses.
---
oke lanjutt,,,
🌙 Materi Ketiga: Islam Nusantara, Moderat, dan Inklusif
Setelah membahas Nilai Dasar Pergerakan, materi berikutnya yang kami terima adalah tentang Islam Nusantara. Materi tersebut terasa lebih ringan dari sebelumnya, tetapi justru membuka cara pandang baru tentang bagaimana Islam hadir dan hidup di tengah masyarakat Indonesia yang beragam.
Pemateri menjelaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah aliran baru, bukan juga ajaran yang menyimpang. Islam Nusantara adalah cara Islam dipraktikkan di Nusantara—yang menyesuaikan diri dengan budaya lokal tanpa meninggalkan nilai dasar ajaran Islam.
---
🌿 Islam Hadir dengan Kedamaian
Pemateri mengingatkan bahwa Islam lahir pada abad ke-6, membawa pesan utama tentang tauhid, keadilan, dan kemanusiaan. Ketika Islam masuk ke Nusantara, ajaran itu tidak datang dengan paksaan, tapi dengan pendekatan budaya, akhlak, dan keteladanan.
Karena itulah Islam di Indonesia dikenal:
ramah,
oke lanjutt,,,
🌙 Materi Ketiga: Islam Nusantara, Moderat, dan Inklusif
Setelah membahas Nilai Dasar Pergerakan, materi berikutnya yang kami terima adalah tentang Islam Nusantara. Materi tersebut terasa lebih ringan dari sebelumnya, tetapi justru membuka cara pandang baru tentang bagaimana Islam hadir dan hidup di tengah masyarakat Indonesia yang beragam.
Pemateri menjelaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah aliran baru, bukan juga ajaran yang menyimpang. Islam Nusantara adalah cara Islam dipraktikkan di Nusantara—yang menyesuaikan diri dengan budaya lokal tanpa meninggalkan nilai dasar ajaran Islam.
---
🌿 Islam Hadir dengan Kedamaian
Pemateri mengingatkan bahwa Islam lahir pada abad ke-6, membawa pesan utama tentang tauhid, keadilan, dan kemanusiaan. Ketika Islam masuk ke Nusantara, ajaran itu tidak datang dengan paksaan, tapi dengan pendekatan budaya, akhlak, dan keteladanan.
Karena itulah Islam di Indonesia dikenal:
ramah,
tidak keras,
dan mudah diterima oleh masyarakat yang beragam latar belakangnya.
---
🤝 Ciri-ciri Islam Nusantara
Dalam penjelasannya, pemateri menyebutkan beberapa ciri utama Islam Nusantara, di antaranya:
* Moderat
Tidak ekstrem ke kanan atau ke kiri. Islam dijalankan dengan seimbang antara teks dan konteks, antara ibadah dan sosial.
* Inklusif
Terbuka terhadap perbedaan. Tidak mudah menghakimi, tidak merasa paling benar, dan mau berdialog dengan siapa pun.
* Menghargai Budaya Lokal
Selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, budaya dijadikan media dakwah, bukan dihapuskan.
Materi ini membuatku sadar bahwa agama dan budaya tidak selalu harus bertabrakan—justru bisa saling menguatkan.
---
🔄 Pergerakan: Tidak Sekadar Bergerak
Pemateri juga mengaitkan Islam Nusantara dengan konsep pergerakan. Beliau menjelaskan bahwa:
> Pergerakan adalah suatu tindakan yang dilandaskan pada nilai dan dilakukan secara terencana serta tersusun.
Artinya, bergerak bukan asal bergerak. Gerakan harus punya:
tujuan,
arah,
dan nilai yang jelas.
Dalam PMII, pergerakan dilakukan sesuai dengan nilai Islam yang moderat dan inklusif, bukan dengan emosi atau kepentingan sesaat.
---
🌸 Materi Keempat MAPABA: KOPRI, Gender, dan Kesadaran Peran
Materi selanjutnya yang kami terima di MAPABA adalah tentang KOPRI (Korps PMII Putri). Di awal pemaparan, pemateri menjelaskan bahwa KOPRI bukan organisasi terpisah, tapi bagian penting dari PMII yang fokus pada penguatan peran dan kesadaran perempuan.
Materi ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, karena membahas tentang gender, peran, dan kodrat, hal-hal yang sering kita dengar tapi kadang masih rancu memahaminya.
---
👩🎓 Apa Itu KOPRI?
KOPRI adalah wadah kader perempuan di PMII untuk:
belajar kepemimpinan,
menyuarakan keadilan,
dan mengembangkan potensi diri,
tanpa meninggalkan nilai keislaman dan budaya.
Pemateri menegaskan bahwa KOPRI bukan untuk melawan laki-laki, tapi untuk berjalan berdampingan dan saling menguatkan dalam pergerakan.
---
⚖️ Gender vs Sex (Kodrat)
Bagian paling penting dari materi ini adalah penjelasan tentang perbedaan gender dan sex (jenis kelamin).
🔹 Gender
Adalah peran, sifat, dan tugas yang dibentuk oleh budaya dan kebiasaan masyarakat.
Karena dibentuk oleh lingkungan, maka gender bisa berubah dan bisa saling menggantikan.
Contohnya:
laki-laki bisa memasak,
perempuan bisa memimpin,
peran bisa dibagi sesuai kemampuan, bukan jenis kelamin.
🔹 Sex (Kodrat)
Adalah kondisi biologis yang tidak bisa diubah, seperti:
perempuan bisa hamil,
laki-laki membuahi.
Ini adalah kodrat yang tidak bisa dipertukarkan.
Pemateri menekankan bahwa keadilan bukan berarti menyamakan segalanya, tapi menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya.
---
🌿 KOPRI dan Kesadaran Perempuan
Dalam KOPRI, perempuan diajak untuk:
* sadar akan potensi dirinya,
* berani bersuara dengan santun,
* dan tidak minder dalam ruang intelektual maupun sosial.
Perempuan PMII diharapkan:
* cerdas berpikir,
* kuat secara mental,
* dan tetap berpegang pada nilai akhlak.
Materi ini membuka mata bahwa menjadi perempuan aktif bukan berarti kehilangan jati diri, justru bisa menjadi pribadi yang lebih utuh.
---
🧠 Materi Kelima MAPABA: Antropologi Kampus dan Cara Membaca Manusia
Materi kelima yang kami terima di MAPABA PMII membahas tentang Antropologi Kampus. Jujur, di awal aku sempat mikir, “Antropologi? Belajar tulang sama manusia purba?” 😅
Ternyata… jauh dari itu.
Pemateri menjelaskan bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia — bukan hanya tubuhnya, tapi juga:
cara berpikir,
kebiasaan,
budaya,
nilai,
dan cara manusia hidup dalam kelompok.
Di sinilah aku mulai paham kenapa materi ini disebut antropologi kampus.
---
🏫 Apa Itu Antropologi Kampus?
Antropologi kampus adalah cara memahami kehidupan manusia di lingkungan kampus:
hubungan antar mahasiswa,
budaya organisasi,
cara berbicara,
cara berpakaian,
bahkan cara kita menyikapi perbedaan pendapat.
Kampus dipandang sebagai ruang budaya, bukan sekadar tempat kuliah dan mengerjakan tugas.
---
📚 Koentjaraningrat dan Konsep Budaya
Pemateri menyebut tokoh penting dalam antropologi Indonesia, yaitu Koentjaraningrat.
Beliau menjelaskan bahwa budaya itu mencakup:
1. Sistem gagasan (cara berpikir, nilai, ide),
2. Sistem sosial (pola hubungan dan perilaku),
3. Hasil karya manusia (benda, simbol, karya).
Kalau ditarik ke kehidupan kampus, ini terlihat dari:
cara mahasiswa berdiskusi,
budaya organisasi,
simbol-simbol seperti jaket almamater dan atribut organisasi.
---
🧩 Trilogi Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Kebudayaan
Yang membuat materi ini terasa “PMII banget” adalah ketika antropologi dikaitkan dengan trilogi nilai:
1. Ketuhanan (Tauhid)
Semua aktivitas manusia harus berlandaskan keyakinan kepada Allah. Ilmu dan gerakan tidak boleh lepas dari nilai tauhid.
2. Kemanusiaan
Manusia harus diperlakukan sebagai manusia—dihargai martabatnya, didengar pendapatnya, dan tidak direndahkan.
3. Kebudayaan
Budaya adalah hasil dari cara manusia hidup dan berpikir. Kampus pun punya budaya yang harus dipahami, bukan ditabrak sembarangan.
Pemateri menekankan bahwa gerakan mahasiswa tanpa pemahaman manusia dan budaya bisa kehilangan arah.
🤍 Penutup MAPABA: Baiat, Bukan Sekadar Seremonial
Dan tibalah di bagian terakhir dari rangkaian MAPABA PMII, yaitu Baiat.
Setelah seharian penuh mendengarkan materi—dari sejarah PMII, nilai dasar pergerakan, Islam Nusantara, KOPRI, hingga antropologi kampus—suasana perlahan berubah. Tidak lagi ramai, tidak lagi bercanda seperti di awal. Semuanya terasa lebih tenang dan khidmat.
Baiat bukan sekadar penutup acara.
Ia adalah titik awal.
---
🕯️ Makna Baiat dalam MAPABA
Dalam baiat, kami tidak hanya berdiri lalu mengikuti ucapan. Kami sedang:
menyatakan kesiapan diri,
mengikat niat,
dan berjanji pada diri sendiri untuk belajar dan berproses.
Baiat di PMII bukan sumpah yang memaksa, tapi ikrar kesadaran. Kesadaran bahwa ketika memilih masuk PMII, berarti siap:
menjaga nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah,
menjunjung tinggi kemanusiaan,
dan berpihak pada kebenaran serta keadilan.
---
🌿 Perasaan Saat Baiat
Jujur, di momen baiat itu rasanya campur aduk.
Capek, iya.
Lelah mendengar materi dari pagi sampai sore, iya.
Tapi saat baiat dimulai, semua rasa itu seperti berhenti sejenak. Ada rasa tenang, haru, dan kesadaran bahwa MAPABA bukan cuma soal “ikut kegiatan”, tapi tentang memulai perjalanan sebagai mahasiswa yang berpikir dan bergerak.
---
🔰 Dari MAPABA ke Perjalanan Panjang
Baiat menandai bahwa kami resmi menjadi bagian dari keluarga besar PMII.
Bukan berarti langsung hebat, tapi siap belajar.
Bukan berarti paling benar, tapi siap berproses.
Dan di situlah aku sadar: MAPABA bukan tempat membentuk mahasiswa yang seragam,
tapi mahasiswa yang punya nilai, punya sikap, dan punya arah.
---
✨ Penutup Refleksi
MAPABA PMII mengajarkan banyak hal: tentang iman, kemanusiaan, pergerakan, budaya, dan tanggung jawab.
Dan baiat menjadi penegasan bahwa semua materi itu bukan hanya untuk didengar,
tapi untuk dihidupi.
Karena menjadi PMII bukan soal atribut,
melainkan soal niat, adab, dan keberanian untuk terus belajar.
Ternyata benar kata panitia:
> “PMII bukan sekadar tempat bernaung, tapi tempat tumbuh.”
---
🟦 Akhir kata...
Walaupun capek, ngantuk, dan kursi terasa makin keras setiap jam 😆 tapi ilmu dan pengalaman ini worth it.
Dan ya… perjalanan ini baru dimulai.
---
🤝 Ciri-ciri Islam Nusantara
Dalam penjelasannya, pemateri menyebutkan beberapa ciri utama Islam Nusantara, di antaranya:
* Moderat
Tidak ekstrem ke kanan atau ke kiri. Islam dijalankan dengan seimbang antara teks dan konteks, antara ibadah dan sosial.
* Inklusif
Terbuka terhadap perbedaan. Tidak mudah menghakimi, tidak merasa paling benar, dan mau berdialog dengan siapa pun.
* Menghargai Budaya Lokal
Selama tidak bertentangan dengan ajaran Islam, budaya dijadikan media dakwah, bukan dihapuskan.
Materi ini membuatku sadar bahwa agama dan budaya tidak selalu harus bertabrakan—justru bisa saling menguatkan.
---
🔄 Pergerakan: Tidak Sekadar Bergerak
Pemateri juga mengaitkan Islam Nusantara dengan konsep pergerakan. Beliau menjelaskan bahwa:
> Pergerakan adalah suatu tindakan yang dilandaskan pada nilai dan dilakukan secara terencana serta tersusun.
Artinya, bergerak bukan asal bergerak. Gerakan harus punya:
tujuan,
arah,
dan nilai yang jelas.
Dalam PMII, pergerakan dilakukan sesuai dengan nilai Islam yang moderat dan inklusif, bukan dengan emosi atau kepentingan sesaat.
---
🌸 Materi Keempat MAPABA: KOPRI, Gender, dan Kesadaran Peran
Materi selanjutnya yang kami terima di MAPABA adalah tentang KOPRI (Korps PMII Putri). Di awal pemaparan, pemateri menjelaskan bahwa KOPRI bukan organisasi terpisah, tapi bagian penting dari PMII yang fokus pada penguatan peran dan kesadaran perempuan.
Materi ini terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, karena membahas tentang gender, peran, dan kodrat, hal-hal yang sering kita dengar tapi kadang masih rancu memahaminya.
---
👩🎓 Apa Itu KOPRI?
KOPRI adalah wadah kader perempuan di PMII untuk:
belajar kepemimpinan,
menyuarakan keadilan,
dan mengembangkan potensi diri,
tanpa meninggalkan nilai keislaman dan budaya.
Pemateri menegaskan bahwa KOPRI bukan untuk melawan laki-laki, tapi untuk berjalan berdampingan dan saling menguatkan dalam pergerakan.
---
⚖️ Gender vs Sex (Kodrat)
Bagian paling penting dari materi ini adalah penjelasan tentang perbedaan gender dan sex (jenis kelamin).
🔹 Gender
Adalah peran, sifat, dan tugas yang dibentuk oleh budaya dan kebiasaan masyarakat.
Karena dibentuk oleh lingkungan, maka gender bisa berubah dan bisa saling menggantikan.
Contohnya:
laki-laki bisa memasak,
perempuan bisa memimpin,
peran bisa dibagi sesuai kemampuan, bukan jenis kelamin.
🔹 Sex (Kodrat)
Adalah kondisi biologis yang tidak bisa diubah, seperti:
perempuan bisa hamil,
laki-laki membuahi.
Ini adalah kodrat yang tidak bisa dipertukarkan.
Pemateri menekankan bahwa keadilan bukan berarti menyamakan segalanya, tapi menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya.
---
🌿 KOPRI dan Kesadaran Perempuan
Dalam KOPRI, perempuan diajak untuk:
* sadar akan potensi dirinya,
* berani bersuara dengan santun,
* dan tidak minder dalam ruang intelektual maupun sosial.
Perempuan PMII diharapkan:
* cerdas berpikir,
* kuat secara mental,
* dan tetap berpegang pada nilai akhlak.
Materi ini membuka mata bahwa menjadi perempuan aktif bukan berarti kehilangan jati diri, justru bisa menjadi pribadi yang lebih utuh.
---
🧠 Materi Kelima MAPABA: Antropologi Kampus dan Cara Membaca Manusia
Materi kelima yang kami terima di MAPABA PMII membahas tentang Antropologi Kampus. Jujur, di awal aku sempat mikir, “Antropologi? Belajar tulang sama manusia purba?” 😅
Ternyata… jauh dari itu.
Pemateri menjelaskan bahwa antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia — bukan hanya tubuhnya, tapi juga:
cara berpikir,
kebiasaan,
budaya,
nilai,
dan cara manusia hidup dalam kelompok.
Di sinilah aku mulai paham kenapa materi ini disebut antropologi kampus.
---
🏫 Apa Itu Antropologi Kampus?
Antropologi kampus adalah cara memahami kehidupan manusia di lingkungan kampus:
hubungan antar mahasiswa,
budaya organisasi,
cara berbicara,
cara berpakaian,
bahkan cara kita menyikapi perbedaan pendapat.
Kampus dipandang sebagai ruang budaya, bukan sekadar tempat kuliah dan mengerjakan tugas.
---
📚 Koentjaraningrat dan Konsep Budaya
Pemateri menyebut tokoh penting dalam antropologi Indonesia, yaitu Koentjaraningrat.
Beliau menjelaskan bahwa budaya itu mencakup:
1. Sistem gagasan (cara berpikir, nilai, ide),
2. Sistem sosial (pola hubungan dan perilaku),
3. Hasil karya manusia (benda, simbol, karya).
Kalau ditarik ke kehidupan kampus, ini terlihat dari:
cara mahasiswa berdiskusi,
budaya organisasi,
simbol-simbol seperti jaket almamater dan atribut organisasi.
---
🧩 Trilogi Ketuhanan, Kemanusiaan, dan Kebudayaan
Yang membuat materi ini terasa “PMII banget” adalah ketika antropologi dikaitkan dengan trilogi nilai:
1. Ketuhanan (Tauhid)
Semua aktivitas manusia harus berlandaskan keyakinan kepada Allah. Ilmu dan gerakan tidak boleh lepas dari nilai tauhid.
2. Kemanusiaan
Manusia harus diperlakukan sebagai manusia—dihargai martabatnya, didengar pendapatnya, dan tidak direndahkan.
3. Kebudayaan
Budaya adalah hasil dari cara manusia hidup dan berpikir. Kampus pun punya budaya yang harus dipahami, bukan ditabrak sembarangan.
Pemateri menekankan bahwa gerakan mahasiswa tanpa pemahaman manusia dan budaya bisa kehilangan arah.
🤍 Penutup MAPABA: Baiat, Bukan Sekadar Seremonial
Dan tibalah di bagian terakhir dari rangkaian MAPABA PMII, yaitu Baiat.
Setelah seharian penuh mendengarkan materi—dari sejarah PMII, nilai dasar pergerakan, Islam Nusantara, KOPRI, hingga antropologi kampus—suasana perlahan berubah. Tidak lagi ramai, tidak lagi bercanda seperti di awal. Semuanya terasa lebih tenang dan khidmat.
Baiat bukan sekadar penutup acara.
Ia adalah titik awal.
---
🕯️ Makna Baiat dalam MAPABA
Dalam baiat, kami tidak hanya berdiri lalu mengikuti ucapan. Kami sedang:
menyatakan kesiapan diri,
mengikat niat,
dan berjanji pada diri sendiri untuk belajar dan berproses.
Baiat di PMII bukan sumpah yang memaksa, tapi ikrar kesadaran. Kesadaran bahwa ketika memilih masuk PMII, berarti siap:
menjaga nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah,
menjunjung tinggi kemanusiaan,
dan berpihak pada kebenaran serta keadilan.
---
🌿 Perasaan Saat Baiat
Jujur, di momen baiat itu rasanya campur aduk.
Capek, iya.
Lelah mendengar materi dari pagi sampai sore, iya.
Tapi saat baiat dimulai, semua rasa itu seperti berhenti sejenak. Ada rasa tenang, haru, dan kesadaran bahwa MAPABA bukan cuma soal “ikut kegiatan”, tapi tentang memulai perjalanan sebagai mahasiswa yang berpikir dan bergerak.
---
🔰 Dari MAPABA ke Perjalanan Panjang
Baiat menandai bahwa kami resmi menjadi bagian dari keluarga besar PMII.
Bukan berarti langsung hebat, tapi siap belajar.
Bukan berarti paling benar, tapi siap berproses.
Dan di situlah aku sadar: MAPABA bukan tempat membentuk mahasiswa yang seragam,
tapi mahasiswa yang punya nilai, punya sikap, dan punya arah.
---
✨ Penutup Refleksi
MAPABA PMII mengajarkan banyak hal: tentang iman, kemanusiaan, pergerakan, budaya, dan tanggung jawab.
Dan baiat menjadi penegasan bahwa semua materi itu bukan hanya untuk didengar,
tapi untuk dihidupi.
Karena menjadi PMII bukan soal atribut,
melainkan soal niat, adab, dan keberanian untuk terus belajar.
Ternyata benar kata panitia:
> “PMII bukan sekadar tempat bernaung, tapi tempat tumbuh.”
---
🟦 Akhir kata...
Walaupun capek, ngantuk, dan kursi terasa makin keras setiap jam 😆 tapi ilmu dan pengalaman ini worth it.
Dan ya… perjalanan ini baru dimulai.
![]() |
| Momen baiat. Bukan sekadar seremonial, tapi awal dari niat untuk belajar, berproses, dan bertanggung jawab sebagai bagian dari PMII. |


Komentar
Posting Komentar