Belajar Adat Itu Seru: Praktik Adat Perkawinan Melayu di Mata Kuliah Adat Istiadat
Di pertemuan mata kuliah Adat Istiadat Melayu bersama dosen pengampu kami, Bapak Tengku Mahesa Khalid, MM, kami melakukan praktik tentang adat perkawinan Melayu. Jujur, ini salah satu pertemuan paling seru dan paling berkesan karena kami benar-benar mempraktikkan prosesi adatnya, bukan hanya teori. kami belajar bahwa adat itu bukan sekadar aturan, bukan hanya budaya turun-temurun — tapi ia adalah cerminan budi, martabat, dan identitas orang Melayu.
Awalnya aku pikir praktik seperti ini bakal formal atau kaku, tapi ternyata suasananya penuh tawa, kagum, dan momen “ohhh ternyata begini!”.Dan dari situ aku baru sadar kalau adat itu sesederhana cara kita menghormati dan memuliakan orang lain.
💍 Perkawinan Melayu: Bukan Hanya Acara, Tapi Adab
Pak dosen pernah bilang:
“Dalam adat Melayu, pernikahan bukan hanya menyatukan dua orang, tetapi dua keluarga, dua martabat, dan dua harga diri.”
Dan benar. Saat mulai mempraktikkan langkah demi langkahnya, pelan-pelan aku paham bahwa setiap gerakan, ucapan, bahkan jumlah orang yang terlibat — semuanya punya makna.
Prosesi adat perkawinan Melayu itu panjang dan berurutan, mulai dari:
📌 Merisik
📌 Meminang
📌 Bertunang
📌 Akad dan bersanding
📌 Tepung tawar
📌 Adat bertandang
Tapi dalam praktik di kelas, kami mencoba bagian yang paling dikenal masyarakat: penyambutan rombongan dan tepung tawar.
🚶♂️🚶♀️ Rombongan Pengantin
Praktik dimulai dari luar kelas. Kami membentuk rombongan layaknya prosesi sungguhan.
Sebelum masuk ke prosesi inti, kami berkumpul di luar kelas. Kami membentuk rombongan layaknya prosesi sungguhan — cuma versi lebih santai dan lucu karena kami masih belajar.
Sebelum masuk ke prosesi inti, kami berkumpul di luar kelas. Kami membentuk rombongan layaknya prosesi sungguhan — cuma versi lebih santai dan lucu karena kami masih belajar.
Ada speaker dengan suara kompang yang mengiringi irama. Rasanya seperti sedang menghadiri acara resmi, tapi dalam versi latihan.
“Perjalanan dimulai—rombongan pengantin menuju pintu adat. Walaupun ini cuma praktik kelas, rasanya tetap kaya mau nikah betulan.”
🥋 Sesi Silat: Tanda Hormat
Saat rombongan tiba, ada prosesi silat penyambutan.
Ini bukan sekadar hiburan — silat dalam adat Melayu punya makna penghormatan sekaligus simbol kesiapsiagaan dan martabat.
Aku sempat terpikir:
"Ternyata sebelum akad, budaya ini sudah mengajarkan kehormatan dan keberanian."
🌾 Lempar Beras Kuning
Setelah silat selesai, ada sesi lempar beras kuning. Awalnya aku kira hanya simbol penyambutan, tapi ternyata ada maknanya:
✨ Beras kuning melambangkan doa berkah, kemuliaan, dan kebahagiaan.
Saat rombongan tiba, ada prosesi silat penyambutan.
Ini bukan sekadar hiburan — silat dalam adat Melayu punya makna penghormatan sekaligus simbol kesiapsiagaan dan martabat.
Aku sempat terpikir:
"Ternyata sebelum akad, budaya ini sudah mengajarkan kehormatan dan keberanian."
🌾 Lempar Beras Kuning
Setelah silat selesai, ada sesi lempar beras kuning. Awalnya aku kira hanya simbol penyambutan, tapi ternyata ada maknanya:
✨ Beras kuning melambangkan doa berkah, kemuliaan, dan kebahagiaan.
🎤 Pantun di Pintu Masuk
Sebelum rombongan masuk, ada pantun balas-balas antara penyambut dan rombongan.
Dan seperti biasa, pantun Melayu itu sopan, halus, tapi tetap penuh makna.
Sebelum rombongan masuk, ada pantun balas-balas antara penyambut dan rombongan.
Dan seperti biasa, pantun Melayu itu sopan, halus, tapi tetap penuh makna.
“Sebelum pintu dibuka, pantun pun bersahut-sahutan. Karena dalam adat Melayu, pintu bukan dibuka dengan tangan—tapi dengan kata-kata yang santun.”
👰🤵 Pertemuan Pengantin
Setelah pantun selesai, barulah kedua “pengantin” bertemu.
Meskipun ini hanya praktik, tetap terasa khidmat — mungkin karena adat Melayu itu memang punya aura keanggunan tersendiri.
Meskipun ini hanya praktik, tetap terasa khidmat — mungkin karena adat Melayu itu memang punya aura keanggunan tersendiri.
🌿 Tepung Tawar: Puncak Prosesi
Ini bagian yang paling penting sekaligus paling panjang, karena semua orang di kelas bertugas melakukannya satu per satu.
Sebelum memulai, dosen menjelaskan bahwa pemberi tepung tawar harus berjumlah ganjil, dan biasanya terdiri dari:
📌 pejabat
📌 tokoh adat
📌 alim ulama
📌 laki-laki dewasa
📌 serta harus berbusana Melayu lengkap
Perlengkapan yang digunakan juga ada maknanya:
✨ Bertih (dari padi burung yang disangrai): harapan rumah tangga ringan dan mudah
✨ Beras putih & kuning: doa rezeki dan kemuliaan
✨ Bunga rampai: keharuman akhlak
✨ Air renjis dengan daun ribu-ribu, juang-juang, ati-ati, sedingin, dan ganda rusa: lambang sejuk, damai, dan rahmat
Satu per satu kami maju. Suasananya berubah tenang.
Walaupun hanya praktik, tetap terasa khusyuk.
☕ Adat Bertandang
Dosen juga menjelaskan bahwa setelah akad dan tepung tawar, selanjutnya ada makan hadap-adab. beberapa hari kemudian ada mandi di taman, setelah itu beberapa hari kemudian ada adat silaturahmi antara dua keluarga — yang dikenal sebagai adat bertandang.
Ini bagian yang menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua orang, tapi dua keluarga yang saling mengenal dan menyatu.
✨ Yang Aku Pelajari
Dari praktik ini, aku sadar bahwa:
🌿 Adat bukan sekadar tradisi — tapi pelajaran hidup.
🌿 Setiap langkah punya makna, bukan dibuat tanpa tujuan.
🌿 Perkawinan Melayu bukan hanya akad dan pesta, tapi proses penyatuan martabat, adab, dan keluarga.
Dan yang paling indah adalah:
> Dalam adat Melayu, semua dimulai dengan hormat, dilakukan dengan sopan, dan diakhiri dengan doa.
Untuk melengkapi materi, kami juga belajar tentang perlengkapan lainnya seperti:
Bokor (mangkuk atau piring cekung untuk tempat tepung tawar)
Dulang (alas dari bahan aluminium untuk meletakkan botor)
Tepak sirih yang berisi daun sirih, pinang, gambir, tembakau, dan kacip (alat pemotong pinang)
Secara keseluruhan, praktik ini seru banget karena bukan hanya belajar teori, tapi benar-benar merasakan langsung bagaimana adat perkawinan Melayu dilakukan. Dengan praktik ini, kami jadi tahu bahwa setiap langkah, setiap bahan, bahkan jumlah orang dalam prosesi memiliki makna dan aturan tersendiri.
Belajar adat seperti ini membuat aku sadar bahwa tradisi bukan hanya tentang seremonial, tapi tentang identitas, nilai, dan sejarah. Dan aku senang bisa menjadi bagian dari pembelajaran yang unik ini.
Kadang kita mengira adat itu kuno, ribet, dan tidak lagi relevan.
Tapi setelah mempraktikkannya sendiri, aku merasa sebaliknya:
✨ Adat itu lembut, penuh makna, dan dekat sekali dengan hati.
✨ Ia mengajarkan tentang sopan santun, penghormatan, dan identitas.
✨ Dan yang paling penting: ia membuat kita ingat siapa kita.
Ini bagian yang menunjukkan bahwa pernikahan bukan hanya tentang dua orang, tapi dua keluarga yang saling mengenal dan menyatu.
✨ Yang Aku Pelajari
Dari praktik ini, aku sadar bahwa:
🌿 Adat bukan sekadar tradisi — tapi pelajaran hidup.
🌿 Setiap langkah punya makna, bukan dibuat tanpa tujuan.
🌿 Perkawinan Melayu bukan hanya akad dan pesta, tapi proses penyatuan martabat, adab, dan keluarga.
Dan yang paling indah adalah:
> Dalam adat Melayu, semua dimulai dengan hormat, dilakukan dengan sopan, dan diakhiri dengan doa.
Untuk melengkapi materi, kami juga belajar tentang perlengkapan lainnya seperti:
Bokor (mangkuk atau piring cekung untuk tempat tepung tawar)
Dulang (alas dari bahan aluminium untuk meletakkan botor)
Tepak sirih yang berisi daun sirih, pinang, gambir, tembakau, dan kacip (alat pemotong pinang)
Secara keseluruhan, praktik ini seru banget karena bukan hanya belajar teori, tapi benar-benar merasakan langsung bagaimana adat perkawinan Melayu dilakukan. Dengan praktik ini, kami jadi tahu bahwa setiap langkah, setiap bahan, bahkan jumlah orang dalam prosesi memiliki makna dan aturan tersendiri.
Belajar adat seperti ini membuat aku sadar bahwa tradisi bukan hanya tentang seremonial, tapi tentang identitas, nilai, dan sejarah. Dan aku senang bisa menjadi bagian dari pembelajaran yang unik ini.
Kadang kita mengira adat itu kuno, ribet, dan tidak lagi relevan.
Tapi setelah mempraktikkannya sendiri, aku merasa sebaliknya:
✨ Adat itu lembut, penuh makna, dan dekat sekali dengan hati.
✨ Ia mengajarkan tentang sopan santun, penghormatan, dan identitas.
✨ Dan yang paling penting: ia membuat kita ingat siapa kita.


Komentar
Posting Komentar