Harapan di balik Wisuda 2025

Beberapa hari setelah acara yudisium, tepatnya pada Kamis, 16 Oktober 2025, kampus kembali menggelar momen besar: Wisuda 2025 yang dilaksanakan di Ballroom Hotel The Zuri Dumai. Kali ini, aku hadir bukan sebagai penampil, tapi sebagai relawan yang membantu kelancaran acara.

Sejak pagi suasana hotel sudah ramai. Para wisudawan berdatangan dengan wajah penuh semangat, mengenakan toga dan selendang kebanggaan mereka. Aku berada di dalam area hotel, tepat di dekat pintu masuk menuju ballroom, tempat para wisudawan bersiap untuk masuk ke ruangan.

Saat iringan kompang mulai terdengar, suasana mendadak berubah haru. Langkah demi langkah mereka menuju ballroom terasa penuh makna—sebuah perjalanan panjang yang akhirnya sampai pada puncaknya. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat senyum, tawa kecil, dan bahkan beberapa wajah yang menahan air mata bahagia.

Di momen itu, aku ikut terbawa suasana. Ada rasa bangga sekaligus haru menyaksikan para wisudawan melangkah dengan tegap, diiringi doa dan kebahagiaan orang tua mereka yang menunggu di dalam ruangan. Dalam hati aku membayangkan, betapa bahagianya para orang tua melihat anaknya mengenakan toga dan berjalan penuh percaya diri menuju panggung kelulusan.

Rasanya hangat, sekaligus jadi pengingat bagi diriku sendiri—bahwa di balik setiap keberhasilan, ada do'a yang tidak pernah putus dari orang tua. Aku pun berdo'a semoga suatu hari nanti aku bisa berada di posisi mereka, membuat orang tuaku bangga dan tersenyum bahagia karena perjuanganku sendiri. Aku teringat bagaimana orang tuaku selalu mendoakan dan mendukung setiap langkahku, bahkan ketika aku mulai lelah atau ragu. Mereka tidak pernah menuntut banyak, hanya ingin melihat aku berhasil dan bahagia.

Menjadi relawan di acara wisuda bukan hanya tugas kecil, tapi pengalaman yang membuka mata tentang arti perjuangan, rasa syukur, dan kebanggaan. Hari itu aku belajar bahwa setiap langkah kecil hari ini adalah bagian dari perjalanan menuju momen besar di masa depan—dan kelak, ketika tiba waktuku mengenakan toga itu, aku ingin melihat senyum bahagia orang tuaku di antara barisan tamu, sama seperti para orang tua yang kulihat hari itu. 🌿



Beberapa saat sebelum acara dimulai, aku sempat memotret pantulan di cermin. Di sebelahku, seorang kakak wisudawan bersiap memasuki ruangan penuh harapan. Dari balik pantulan itu, aku melihat semangat dan kebahagiaan yang sederhana—mengingatkanku untuk terus berjuang sampai tiba di hari yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunikasi dalam Perspektif Islam: Telaah Ayat dan Hadis

Komunikasi sebagai Proses Dinamis, Sistematik, dan Simbolik dalam Kehidupan Sehari-hari

Pengalaman Pertama Jadi Penari Kreasi di Yudisium 2025