Cerita di Balik Kamera Handphone: PBAK 2025

Tahun 2025 ini jadi pengalaman baru buatku, karena untuk pertama kalinya aku terlibat sebagai panitia PBAK (Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan) di kampus. Rasanya masih jelas teringat, tahun lalu aku berada di posisi mahasiswa baru, sedangkan tahun ini aku sudah berdiri di sisi lain — sebagai panitia dokumentasi yang bertugas mengabadikan setiap momen penting. Tapi bukan dengan kamera profesional — semua momen kuabadikan hanya lewat kamera handphone. Meski sederhana, setiap jepretan punya cerita, dan dari sanalah kisah ini bermula.

Dan ini benar-benar pengalaman pertamaku ikut dalam kepanitiaan sebesar ini, dan jujur, rasanya campur aduk antara senang, gugup, dan penasaran.

Kegiatan PBAK 2025 dilaksanakan pada 12 September 2025, berlangsung selama dua hari satu malam untuk mahasiswa baru, sementara kami para panitia sudah mulai sejak sehari sebelumnya — jadi total tiga hari dua malam di kampus. Sejak dinyatakan lolos sebagai panitia, kami mulai menjalani rapat dan pembagian tugas.

Di divisi dokumentasi sendiri, tentu aku tidak sendirian. Kami bertiga: aku, Kak Fitri, dan Kak Sari. Masing-masing punya gaya dan sudut pandang berbeda saat mengambil gambar. Kadang kami saling mengingatkan momen apa yang harus diabadikan, kadang saling bertukar posisi saat satu dari kami butuh istirahat sebentar. Kerja bareng seperti itu rasanya bikin lebih ringan dan lebih menyenangkan.

Divisi dokumentasi memang terlihat “tenang” dari luar, tapi ternyata tanggung jawabnya besar banget. Kami harus memastikan setiap momen terekam dengan baik — mulai dari persiapan hingga hari pelaksanaan. Berdiri lama di lapangan dan tetap sigap menangkap momen tanpa boleh ketinggalan sedikit pun. Tapi justru dari situ aku belajar banyak hal baru: cara kerja tim, komunikasi cepat di lapangan, dan pentingnya menjaga fokus meski kondisi kadang melelahkan.

Menjelang hari pelaksanaan, kami para panitia menginap di kampus selama tiga hari dua malam untuk memastikan semua persiapan berjalan lancar. Malam pertama digunakan untuk menyiapkan perlengkapan seperti sound system, spanduk, hingga penataan ruang kegiatan. Suasananya ramai dan penuh semangat — ada yang sibuk menyiapkan peralatan, ada yang rapat kecil, ada pula yang sambil bercanda untuk menghilangkan rasa tegang. Walaupun lelah, suasananya hangat banget karena semuanya dilakukan bersama-sama.

Hari pertama PBAK pun dimulai. Sejak pagi, para mahasiswa baru sudah berkumpul di lapangan kampus untuk menerima arahan dari panitia. Suasananya semangat banget — beberapa masih malu-malu, tapi banyak juga yang sudah mulai akrab satu sama lain. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan di aula utama, tempat mereka mendengarkan berbagai materi pengenalan kampus dan kehidupan perkuliahan. Dari balik kamera, aku melihat mereka fokus, tertawa saat suasana cair, bahkan sesekali mencatat hal-hal penting. Kegiatan berlangsung hingga sore, tapi semangat mereka nggak surut sedikit pun.

Menjelang malam, suasananya berubah lebih khidmat karena bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kami semua berkumpul di halaman kampus dan bershalawat bersama. Momen itu terasa hangat — sekaligus jadi waktu istirahat batin setelah seharian penuh kegiatan.

Keesokan paginya, suasana kembali ramai dan penuh semangat. Sebelum memulai kegiatan utama, para mahasiswa baru diajak untuk yel-yel bersama. Suaranya menggema di halaman kampus — teriakan semangat, tawa, dan tepuk tangan saling bersahutan. Sebagai dokumentasi, aku tersenyum sendiri di balik kamera, melihat antusias mereka yang luar biasa.

Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan membatik di atas kain panjang. Kali ini mereka tidak menggunakan kuas, melainkan alat dari bambu kecil (canting) yang diisi malam cair panas di atas kompor. Setiap tetesan malam yang menempel di kain membentuk pola unik, hasil dari kerja sama dan kreativitas tiap kelompok. Dari balik kamera, aku bisa melihat ekspresi antusias dan bangga mereka — beberapa bahkan baru pertama kali mencoba teknik membatik seperti itu.

Melihat mereka tertawa, saling membantu, dan menciptakan karya bersama, aku merasa ikut terharu. Di balik lelahnya tiga hari dua malam di kampus, ada rasa puas karena bisa menjadi bagian kecil dari proses mereka mengenal dunia perkuliahan.

Menjelang sore, acara pun resmi berakhir. Kami semua — panitia, mahasiswa baru, dan pembina — berkumpul untuk berfoto bersama sebagai penutup kegiatan. Senyumnya lebar, meski wajah lelah sudah nggak bisa disembunyikan lagi. Setelah itu, kami lanjut dengan evaluasi bersama untuk membahas jalannya acara dari awal sampai akhir. Momen itu terasa hangat dan jujur — ada tawa, ada refleksi, dan tentu saja rasa lega karena semua berjalan dengan baik.

Pengalaman ini bukan cuma soal jadi panitia, tapi juga tentang belajar tanggung jawab, kerja sama, dan menghargai proses. Dari sini aku sadar, hal-hal sederhana seperti begadang bareng, tertawa di tengah kelelahan, dan melihat semangat orang lain bisa jadi kenangan yang nggak terlupakan. 🌿



"Di balik senyum lelah ini, ada banyak cerita, pelajaran, dan kebersamaan yang tumbuh dari sebuah acara bernama PBAK."



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Komunikasi sebagai Proses Dinamis, Sistematik, dan Simbolik dalam Kehidupan Sehari-hari

Komunikasi dalam Perspektif Islam: Telaah Ayat dan Hadis

Persepsi dalam Komunikasi: Kunci Memahami dan Menanamkan Nilai dalam Pendidikan Karakter Bangsa